Sistem Komunikasi Indonesia - Dinda Aulia Swastika Putri (2102056027)
Critical Reciew
"Membangun Sistem Komunikasi Indonesia yang Kolektif Lewat Media Tradisional"
Penulis Mutiah, Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya
Bibliografi
Jurnal yang diambil
untuk tugas ini bersumber dari dosen pengampu mata kuliah Sistem Komunikasi
Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, Kheyene
Molekandella Boer, M.Ikom. Jurnal yang akan dikritisi berjudul “Membangun
Sistem Komunikasi Indonesia yang Kolektif Lewat Media Tradisional” ditulis oleh
Mutiah. Jurnal tersebut berisi tentang kaitan sistem komunikasi Indonesia dengan
masyarakat Indonesia melalui media tradisional.
A.
PENGANTAR
Dalam
sistem komunikasi kita mengenal tahapan masyarakat di Indonesia yaitu
tradisional, kolektivis, dan individualis (Nurudin 2004: 21). Pada tahapan
tradisional masyarakat Indonesia masih menggunakan media tradisional ditandai
dengan aktivitas seni dan budaya seperti wayang, kentongan, ludruk, dan
lain-lain. Media tradisional tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh masyarakat kita
masih banyak aktivitas tradisional dapat dijumpai di beberapa daerah di tanah
air.
Penggunaan
media sosial sebagai masya modern, bukanlah hal yang salah, hanya saja menurut
pendapat penulis, budaya komunikasi digital mengikis budaya kolektif bangsa Indonesia.
Salah satu kegiatan komunikasi kolektif adalah penggunaan media tradisional. Media
tradisional adalah cerminan luhur bangsa Indonesia yang berkarakter gotong
royong. Di tengah era digital nyatanya masih ada beberapa wilayah yang
mempertahankan budaya kolektif dalam berkomunikasi kol atau bermasyarakat. Maka
lewat artikel ini peneliti ingin memaparkan eksistensi sistem komunikasi
kolektif lewat media tradisional di Jawa Timur.
B. RINGKASAN
JURNAL
1.
Pendahuluan Jurnal
Media tradisional
tumbuh dan berkembang menjadi media masyarakat, ciri dari media masyarakat adalah
komunikasi dengan melibatkan pertemuan fisik, atau komunikasi antar personal. Hal
ini dikarenakan masyarakat belum sepenuhnya percaya menggunakan media digital
dan media massa. Ada yang dinamakan sebagai media masyarakat, media masyarakat sendiri
berfungsi sebagai media yang memberikan alternatif sarana untuk rakyat mengemukakan
kepentingan nya. Media masyarakat dapat pula menjadi jembatan untuk
menghubungkan kesenjangan antara pusat dan masyarakat pinggiran.
Ketika berbicara
mengenai media tradisional dan kearifan lokal bangsa serta sistem komunikasi
yang kolektif maka tidak bisa dilepaskan dari seni tradisional, karena lewat
seni tradisional lah bentuk komunikasi kolektif bermula.
Media tradisional
tentu saja hasil dari menggali cerita-cerita rakyat kegiatan ini sering disebut
folklor. Ada banyak bentuk folklor yaitu
mitos, legenda, dan dongeng yang merupakan cerita prosa rakyat. Kemudian hadir
lah puisi rakyat, nyanyian rakyat, teater rakyat, gerak isyarat, alat
pengingat, alat bunyi-bunyian dan masih banyak lagi yang sampai sekarang masih
digunakan masyarakat kita.
Folklor dapat menjadi
alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh
anggota kolektifnya (Danandjaja, dalam Nurudin 2007: 115). Folklor juga dapat
mengandung cerita yang menguatkan adat rakyat, seperti mengangkat cerita bahwa
seseorang harus dihormati karena mempunyai kekuatan luar biasa. Cerita “Katak
yang Congkak” merupakan alat paksaan pengendalian sosial terhadap norma atau
nilai masyarakat karena menyindir yang banyak bicara tetapi sedikit bekerja.
2.
Teknik Pengumpulan Data
Pada jurnal ini,
penulis mengobservasi secara non partisipan, artinya penulis mengikuti
aktivitas masyarakat namun penulis tidak lantas sebagai pengguna media
tradisional yang digunakan masyarakat setempat. Penulis juga mendapatkan data
melalui wawancara. Data dianalisis oleh penulis secara deskriptif. Data yang
sudah diperoleh dikumpulkan secara sistematis dan dianalisis secara kualitatif.
Dalam artikel ini data yang telah dianalisis penulis sajikan dan jelaskan
dengan mengaitkan pada literature sistem komunikasi tradisional.
3.
Hasil Penelitian
Salah satu tempat penelitian
yang dilakukan oleh penulis adalah di Desa Batangan pada tahun 2017. Desa
Batangan sendiri merupakan desa yang terkenal sebagai tempat penyelesaian
masalah melalui kekerasan atau perkelahian menggunakan senjata tajam celurit.
Hal tersebut menggambarkan Desa Batangan masih menggunakan media komunikasi
tradisional. Desa tersebut dapat dibilang cukup modern untuk desa yang jarang
dilewati lewati oleh banyak orang. Warga desa batangan sudah banyak yang
menggunakan gadget untuk
berkomunikasi dengan dunia luar. Akan tetapi, warga desa masih mempertahankan
media komunikasi tradisional yaitu kentongan.
Tempat lainnya adalah
Dusun Jegles yang berada di Kota Kediri. Di dusun tersebut, masyarakat masih
menggunakan musyawarah sebagai media komunikasi. Hal tersebut masih sangat
lumrah dilakukan karena mengingat seluruh Indonesia pasti masih melestarikan
budaya musyawarah. Selain itu, Kota Kediri juga sering melaksanakan Festival
Brantas untuk menghadirkan massa. Pada festival tersebut warga menaburkan
benih-benih ikan ke sungai dengan tujuan memberikan pelajaran pada generasi
muda bagaimana cara hidup yang ramah lingkungan. Selain menaburkan benih ikan
ke sungai, masyarakat juga berpartisipasi untuk membersihkan pinggiran sungai,
larung sesaji, dan jaranan. Semua rangkaian tersebut tidak lain adalah sebagai
bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Masyarakat Gresik pun
memiliki media komunikasi tradisional khas nya yaitu cerita rakyat Damar
Kurung. Damar kurung berupa sebuah lampion kertas yang dengan kerangka bambu
yang pada sisi-sisinya dipenuhi oleh lukisan yang menceritakan tentang
kehidupan sehari-hari. Damar kurung memiliki eksistensi yang tinggi pada masyarakat
luas karena lampu memiliki nilai keindahan tersendiri ketika dijadikan sebagai
media tradisional.
Daerah terakhir yang penulis
teliti adalah Jelidro Indah, Surabaya Barat. Masyarakat Jelidro Indah
menggunakan Gong sebagai media komunikasi tradisional yang merupakan pertanda
kepergian atau meninggalnya seseorang. Dari awal digunakan pada tahun 1940
sampai ketika penulis menulis jurnal ini, masyarakat Jelidro Indah masih
menggunakan Gong.
4.
Kesimpulan Jurnal
Kolektifitas yang
dimiliki bangsa Indonesia merupakan hal yang mempererat persatuan di dalam
perbedaan suku bangsa, bahasan, dan agama. Sistem masyarakat yang kolektifis menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari komunikasi. Media-media tradisional yang
sifatnya menghibur nyatanya bisa efektif menyampaikan pesan-pesan luhur budaya,
pendidikan, dan pembangunan. Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi nyatanya
tidak menyingkirkan media tradisional. Hal tersebut terbukti melalui beberapa
festival daerah dari tahun ke tahun yang masih sering dilakukan, peralatan budaya
yang masih berfungsi, dan folklor yang terus diwariskan dari generasi ke
generasi.
C. KRITIKAL
JURNAL
Kelebihan dari jurnal
ini adalah penulis cukup menggambarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat
pada daerah penelitian. Penulis menulis jurnal dengan kalimat-kalimat yang sederhana,
sehingga membuat para pembaca mudah memahami sistem komunikasi yang kolektif
melalui media tradisional.
Dari sisi metodologi
penelitian, peneliti hanya sedikit menggambarkan kegiatan-kegiatan komunikasi
tradisional yang dilakukan masyarakat daerah yang diteliti. Penulis seperti
hanya mengambil informasi mengenai kegiatan-kegiatan tersebut dari internet
(informasi umum). Padahal, penulis bisa lebih menjabarkan kegiatan-kegiatan
yang berhubungan dengan sifat tradisional suatu daerah. Hal ini membuat para
pembaca sedikit kecewa karena hanya mendapat sedikit informasi dari
daerah-daerah tersebut.
Banyaknya kalimat yang tumpang
tindih informasi, sehingga membuat kalimat yang ditulis oleh penulis menjadi
tidak efektif. Penulis sering membuat kalimat yang tidak jelas maksud dan
tujuannya apa. Selain itu, penulis juga sering salah ketika menulis beberapa
kata sehingga membuat pembaca kebingungan dengan kata yang sebenarnya.
Terima kasih. Have a nice day!😁
Komentar
Posting Komentar